Budaya Premanisme Dalam Masyarakat

Budaya Premanisme Dalam Masyarakat

Oleh : Waisy Al Qorni

            Di zaman yang modern ini, tawuran dianggap sebagai suatu hal yang biasa. Memicu timbulnya sikap preman. Berbagai media telah banyak mempublikasikan masalah itu. Namun diantara semua masalah, yang paling banyak mendapat perhatian masyarakat adalah kasus tawuran pelajar. Pola fikir yang masih labil menjadikan Pelajar mudah emosi yang akhirnya memunculkan suatu tindakan arogan.
popularitas tawuran semakin terasa ketika banyak geng-geng yang terbentuk. Perilaku anarki yang selalu mereka tunjukkan kepada masyarakat mengakibatkan banyak dampak negatif. Dalam aspek fisik adalah kematian dan kerusakan prasarana-prasarana masyarakat. Sedangkan dalam aspek moral adalah trauma yang dialami oleh para korban, merusak mental para generasi muda dan masih banyak yang lain.
Anggapan tawuran bukan lagi dikenal sebagai kenakalan biasa. Namun telah menjadi suatu tindak kriminal. Dikatakan demikian karena kita sendiri dapat melihat senjata-senjata yang sering digunakan dalam tawuran adalah seperti pisau, celurit, gir sepeda motor dan barang-barang tajam lainnya. Menjadikan suatu ketakutan dalam lingkungan  masyarakat disekitar wilayah tawuran tersebut.
            Disaat mereka tidak mendapatkan perhatian. Baik perhatian dari keluarga atau lingkungannya. Disaat mereka tidak mampu untuk menampilkan diri secara positif yang memungkinkan orang lain mengakui eksistensinya; maka mereka akan bertindak apa saja supaya orang lain memberi perhatian. Jadi, tawuran menurut pandangan mereka tak lain marupakan sarana yang dipilih untuk menunjukkan eksistensi diri atau identitas dirinya di mata orang lain.
            Pada dasarnya, mereka ingin diakui dan diperhatikan, tapi dengan cara yang negatif dan bahkan membahayakan jiwa orang lain. Melakukan tindakan-tindakan yang melanggar norma-norma. Baik norma hukum maupun agama. Nah, disinilah pentingnya peran orang tua dan sekolah untuk membina para remaja. Memberikan sugesti-sugesti yang baik. Sehingga mereka akan sadar untuk menampilkan pada masyarakat suatu tindakan-tindakan yang berdampak positif.
            Terkadang seseorang juga ingin diakui dan dikenal identitas dirinya dengan cara mencontoh ataupun menduplikat  identitas orang lain. Ini boleh-boleh saja, tapi dilihat dulu siapa orang yang akan kita contoh identitasnya. Apakah itu dapat menjadikan kita lebih baik ataukah malah menjadi lebih buruk. Contohnya saja, kita sebagai umat islam mengidolakan satu figur pemimpin yang sempurna  yaitu Nabi Muhammad Saw. Maka kita akan berusaha untuk meniru semaksimal mungkin apa yang telah dilakuan oleh nabi Muhammad Saw. Figur Muslim merupakan Identitas kita yang sesungguhnya. Nabi Muhammad Saw. Bersabda : “Tidak ada orang yang lebih mulia di sisi Allah dari seorang mukmin” (HR. Ath Thabrani). Dan yang wajib kita ketahui bahwa Allah tidak melihat tinggi rendahnya derajat manusia dari dandanan, harta maupun kuantitas. Namun Allah melihat manusia dari kualitas iman dan amal.  Pemikiran yang belum stabil, menjadikan  kebanyakan dari kita malah mengidolakan tokoh-tokoh yang pada hakikatnya menyebabkan kerusakan. Bukan kerusakan dalam aspek fisik yang menjadi masalah utama, tapi kerusakan dalam aspek moral.
            Menurut penulis, televisi dan Internet menjadi faktor utama dalam masalah ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa dizaman yang serba modern ini, media massa seperti televisi dan internet telah merasuk dalam jiwa masyarakat. Baik orang tua, remaja, maupun anak-anak. Bagaimana tidak ?, seperti televisi yang seharusnya menjadi pendidik untuk penonton malah menjadi perusak moral. Tayangan-tayangan yang berbau kekerasan seakan telah menjadi bagian penting dalam dunia pertelevisian.  Apalagi internet, yang lebih banyak menyuguhkan hidangan berbau tak sedap seperti video-video yang mengajarkan kebrutalan, pornografi dan lain-lain. Menjadikan keduanya sebagai penentu kepribadian generasi bangsa di zaman ini. Jadi jangan heran, bila remaja sekarang mencontoh tokoh-tokoh dalam film ataupun internet yang mereka anggap sebagai sosok orang hebat. Mengaplikasikannya dalam kehidupan. Karena mereka mempunyai pemikiran bahwa itu semua adalah trend atau gaya hidup.
            Islam sebagai suatu agama yang sangat sempurna memiliki jawaban-jawaban atas problem-problem masyarakat seperti tindakan premanisme dan tawuran. Suatu ketika ada seorang dari kaum yahudi yang memukul kepala budak wanita hingga tewas. Setelah kabar itu diketahui oleh Rasulullah Muhammad Saw., Beliau langsung mengqishos orang yahudi tersebut. Riwayat ini menunjukkan bahwa nyawa dalam islam sangat dihargai. Nah, sudah jelas bahwa jika ada pelajar yang membacok temannya hingga tewas, maka dalam hukum islam dia wajib dikenai hukuman qishos. Hukuman ini bukan menunjukkan kekejaman, tapi menunjukkan bahwa kedilan itu harus ditegakkan.
            Solusi yang dapat diberikan penulis mengenai permasalahan premanisme adalah sebagai berikut :
1.      Faktor Internal
a.    Sabar
Dengan sabar kita akan bisa mengontrol tingkah laku. Melakukan hal yang positif dan meninggakan hal yang negatif. Dapat memperkirakan akibat dari perbuatan tersebut, apakah akan menguntungkan atau malah merugikan.
b.    Berfikir Positif
            Dengan berfikir positif, kita akan merasa bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri kita adalah yang terbaik untuk kita.
2.      Faktor Eksternal
a.       Perhatian
Ketika seseorang mendapatkan suatu perhatian. Disaat itu pula keberadaanya telah dianggap. Dan itulah yang menjadi salah satu faktor munculnya premanisme.

Nah, Mungkin hanya inilah saran yang dapat penulis berikan untuk mengatasi problem premanisme. Semoga dapat membantu.