Metode dan Tokoh dalam Ilmu Filsafat



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Dalam kamus ilmiah populer, kata Metode berarti cara yang teratur dan sigtimatis untuk melakukan sesuatu ; cara kerja. Dapat pula bermakna penelitian atau hipotesa ilmiah. Maka dapat dikatakan bahwa metode adalah cara kerja yang sistematis yang digunakan untuk memahami suatu objek yang dipermasalahkan atau realitas yang dianalisa.
Ilmu filsafat sebagai suatu ilmu yang menekankan pada pemikiran juga memerlukan adanya metode. Dengan metode, kebenaran akan muncul. Namun didalam filsafat, banyak sekali metode yang digunakan oleh para filosof.
B.  Rumusan Masalah
Adapun tujuan yang hendak dicapai oleh penulis adalah sebagai berikut :
1.             Memahami macam-macam metode dalam Ilmu Tasawwuf
2.             Mengetahui Tokoh-tokoh dalam Ilmu Tasawwuf










BAB II
PEMBAHASAN

A.  Metode-Metode dalam Ilmu Tasawwuf  Beserta Para Tokohnya
Sepanjang sejarah filsafat telah dikembangkan sejumlah metode-metode filsafat yang berbeda dengan cukup jelas. Yang paling penting dapat disusun menurut garis historis sebagai berikut :
1.        Metode Kritis
Secara harfiah, kritik berarti “pemisahan”.[1] Prinsip dari metode ini adalah bersifat analisa istilah dan pendapat.[2] Metode ini dikembangkan oleh sokrates dan plato. Dalam sejarah filsafat yunani, sokrates dan plato adalah filosof terkemuka. Pemikiran sokrates berpusat pada manusia yang menyangkut kehidupan sehari-hari. Karena menurutnya kehidupan sehari-hari merupakan kebenaran obyektif. Ciri lain pemikiran Sokrates adalah Individualismenya yang jelas. Pengetahuannya diambil dari cara berfikir rasional egonya sendiri, yaitu diri yang terpandang terpisah sama sekali dari lingkungan alamdan sosialnya.
Filsafat sokrates dan plato adalah upaya ntuk memperoleh suatu kebajikan. Dalam hal ini adalah kebajikan manusia. Kebajikan harus tampak hingga menjadikan kebahagiaan sejati pada manusia. Jadi segala sesuatu yang obyektif akan menghasilkan sesuatu yang obyetif pula.
Oleh karena itu, Untuk mencapai obyektifitas maka diperlukan metode yang sesuai.  Sokrates percaya bahwa pengetahuan akan kebenaran objektif itu tersimpan dalam jiwa setiap orang sejak masa praeksistensinya. Oleh sebab itu, filsafat Sokrates tidsak mengajarkan kebenaran tapi hanya menolong orang mencapai kebenaran. Filsafat menolong manusia melahirkan kebenaran seperti layaknya ibu melahirkan bayinya. Maka, tugas filsafat adalah tugas untuk menjadi bidan yang menolong manusia melahirkan kebenaran.[3]
2.      Metode Intuitif
Metode ini berkembang dengan ide Plotinos dengan ajaran Neo-Platonisme. Filsafat Plotinos adalah kulminasi dan sintesa definitif aneka ragam filsafat Yunani.[4] Ide kebaikan dalam ajaran Plotinos disebut sebagai to hen (yang esa/the one). Yang Esa merupakan yang awal atau yang pertama, yang paling baik, yang paling tinggi dan yang kekal. Yang esa tidak dapat dikenali oleh manusia karena hal itu tidak dapat dibandingkan atau disamakan dengan apa pun juga. Yang Esa merupakan pusat daya dan pusat kekuatan. Seluruh realitas memancar keluar dari pusat itu. Proses pancaran dari To Hen disebut Emanasi. Meskipun melalui proses emanasi, eksistensi Yang Esa tidak berkurang atau berubah.
Filsafat Plotinos tidak berhenti pada ajaran. Tapi ajaran Plotinos mengarah pada suatu cara hidup. Ini berarti bahwa ajaran Plotinos tidak berhenti pada masalah benar tidaknya ajaran yang disampaikan tapi lebih dari itu, ajaran Plotinos harus mengarah pada suatu sikap hidup yang tidak terikat pada hal duniawi. Itulah sebabnya ajaran Plotinos sering disebut ajaran yang kontemplatif-mistis.
3.      Metode Skolastik
Filsafat Skolastik menemukan puncak kejayaannya waktu Thomas Aquinas menjadi filsuf pokoknya. Filsafat skolastik dikembangkan dalam sekolah-sekolah biara dan keuskupan. Para filsuf skolastik tidak memisahkan filsafat dari teologi kristiani. Jadi dapat dikatakan bahwa filsafat integral dalam ajaran teologi.
Gaya filsafat abad pertengahan adalah sintesa ajaran filsafat sebelumnya. Sistem skolastik mengarah pada jalan tengah ekstrem-ekstrem ajaran filsafat waktu itu. Sintesa filsafat skolastik terdiri dari ajaran neoplatonis, ajaran Agustinus, Boetius, Ibn Sina, Ibn Rushd dan Maimonides. Selain ajaran-ajaran di atas, aliran filsafat pokok yang dianut oleh filsuf skolastik, terutama Thomas Aquinas adalah filsafat Aristotelian. Filsafat Aristoteles memberikan perspektif baru mengenai manusia dan kosmos. Thomas Aquinas mendasarkan filsafatnya pada filsafat Aristotelian terutama dalam ajaran potentia dan actus.
4.      Metode Matematis
Metode Matematis ini dikembangkan oleh Rene Descartes. Dalam bidang matematika, Rene Descartes memadukan prinsip geometri dan aritmatika dengan menggunakan prinsip rumus aljabar yang kemudian dikenal dengan koordinat kartesian. Rene Descartes berpendapat bahwa apa yang jelas dan terpilah-pilah (clear and distinctly) harus dipandang sebgai suatu kebenaran. Demikian semboyan pertama Sokrates.[5]
Awal filsafat Descartes adalah kebingungan. Filsafat begitu beragam dan dianggap Descartes sebagai ilmu yang simpang siur serta penuh dengan kontradiksi. Dalam kebingungannya, Descartes merasa harus berbuat lebih untuk penyempurnaan filsafat. Ia mencoba menyusun ilmu induk yang mengatasi seluruh ilmu pengetahuan dengan metode ilmiah yang bersifat umum dan cocok digunakan dalam segala ilmu. Logika Aristoteles tidak bermanfaat karena lewat logika itu tidak tercapai pengetahuan yang baru. Descartes mencoba untuk melepaskan diri dari ajaran-ajaran tradisional agar ia bisa memperbaharui filsafat dan ilmu pengetahuan.
Descartes menulis dua buku monumental, yaitu Discourse on Method dan Meditations. Dalam dua buku itu, Descartes membentangkan prinsip-prinsip filsafatnya. Penjelasan Descartes dimulai dengan prinsip keraguan atau kesangsian kartesian. Sebuah pengetahuan baru adalah pengetahuan yang kebenarannya tidak dapat diragukan. Pengetahuan sejati dimulai dari kepastian. Titik tolak pengetahuan yang benar adalah titik pengetahuan yang tidak dapat diragukan atau disangsikan. Dasar pengetahuan adalah kepastian. Kepastian itu adalah kondisi tak bersyarat dan tidak tergantung dari hal yang dipelajari dan dialami karena segala sesuatu yang dipelajari dan dialami sewaktu-waktu dapat berubah. Perubahan menandakan ketidakpastian.
Maka dapat dikatakan pemikiran Descartes sangat bersifat rasional. Analisa konseptual diidentifikasikan lebih dahulu elemen-elemen sederhana. Analisa identifikasi tersebut disintesakan dengan suatu pemahaman struktur realitas dengan memahami hubungan yang perlu di dalam elemen-elemen tersebut yang harus berdiri satu terhadap yang lainnya. Pemanfaatan metode ini menghasilkan desakan ketidakpastian hingga ke batas yang paling akhir dengan membuat keterangan atau fakta yang menopang keyakinan-keyakinan yang telah diterima selama itu menjadi sasaran kritik yang paling tidak kenal kompromi dan menangguhkan setiap pendapat kendati tidak masuk akal tapi sedikit banyak mengandung suatu yang rasional meragukan.
5.      Metode Empiris
Metode ini dipergunakan oleh Francois Bacon, Tomas Hobbes, John Locke, Berkeley. Metode ini berpijak bahwa hanya pengalamanlah yang dapat menyajikan pengertian yang benar. Merea berpendapat bahwa tugas yang sebenarnya dari ilmu pengetahuan adalah mengusahakan penemuan-penemuan yang meningkatkan kemakmuran dan hidup yang enak. Mereka berpendapat demikian karena hingga saat ini penemuan-penemuan yang ada hanyalah sebuah kebetulan belaka.
6.      Metode Transendental
Metode kritis transendental dikembangkan oleh Immanuel Kant. Filsafat Kant adalah titik tolak periode baru bagi filsafat barat. Ia mensintesakan dan mengatasi aliran rasionalisme dan empirisme. Di satu pihak, ia mempertahankan objektivitas, universalitas dan kepercayaan akan pengertian, dan di lain pihak ia menerima bahwa pengertian bertolak dari fenomena dan tidak dapat melebihi batas-batasnya. Filsafat Kant menekankan pengertian dan penilaian manusia, bukan dalam aspek psikologis melainkan sebagai analisa kritis. Objektivitas menyesuaikan diri dengan pengertian manusia.[6]
Metode Kant menerima pengertian tertentu yang objektif. Analisa kritis Kant dapat dibedakan dari analisa psikologis yang empirik, analisa logis yang memperlihatkan unsur-unsur isi pengertian satu sama lain, analisa ontologis yang meneliti realitas menurut adanya dan analisa kriteriologis yang hanya menyelidiki relasi formal antara kegiatan subjek sejauh ia mengartikan dan menilai hal tertentu, dan objek sejauh itu merupakan fenomena yang ditanggapi.
7.      Metode Dialektis
Metode dialektis dikembangkan oleh George Wilhelm Friedrich Hegel. Hegel merupakan erenung dari segala perenung, atau penafsir dari segala penafsir dalam sejara filsafat. Hegel melawan ajaran filsafat Descartes dan Spinoza. Jalan pikiran Hegel untuk memahami kenyataan adalah mengikuti gerakan pikiran dan konsep. Struktur dalam pikiran adalah sama dengan proses genetis dalam kenyataan. Antara metode dan sistem atau teori tidak dapat dipisahkan. Dan keduanya adalah kenyataan. Dinamika pemikiran Hegel ini disebut dialektis. Dialektika diungkapkan sebagai tiga langkah, yaitu tesis, anti tesis dan sintesis. Seluruh karya Hegel memperlihatkan gerakan tiga langkah tersebut.
Langkah metodis Hegel dimulai dengan penegasan. Titik tolak Hegel mengambil salah satu pengertian atau konsep yang dianggap jelas. Pengertian dan konsep yang jelas adalah pengertian empiris inderawi. Pengertian tersebut bersifat spontan dan non-reflektif, abstrak, umum, statis dan konseptual. Tapi dalam proses pemikiran, pengertian tersebut mulai kehilangan ketegasannya dan mulai bersifat cair. Maka Hegel mulai pada langkah berikutnya yang biasa disebut pengingkaran.
Langkah pengingkaran adalah usaha mengingkari langkah pertama. Langkah perlawanan itu mencari bentuk alternatif yang bisa ditambahkan dalam pengertian yang dicapai dalam langkah pertama. Maka terjadi proses dialektika pikiran. Konsep atau pengertian yang muncul dalam langkah kedua itu diperlakukan menurut cara yang sama seperti langkah pertama. Setelah menemukan perlawanan konseptual yang berhubungan dengan pengertian pertama maka pengertian dan konsep itu bergerak dinamis.
Menurut Hegel, perlawanan adalah motor dialektika. Perlawanan adalah jalan atau tahap mutlak yang harus dialami dulu untuk mencapai kebenaran.
8.      Metode Fenomenology
Peletak dasar metode fenomenologis adalah Edmund Husserl. Salah satu pemikir fenomenologis terkenal adalah Martin Heidegger. Fenomenologi berinspirasi pada pembedaan yang dilakukan oleh Immanuel Kant antara noumenal dan phenomenal serta pengembangan kritis teori idealisme Hegel.
Husserl mau menentukan metode filosofis ilmiah yang lepas dari prasangka metafisis. Metode itu harus menjamin filsafat sebagai suatu sistem pengetahuan yang terjalin oleh alasan-alasan sedemikian rupa sehingga setiap langkah berdasarkan langkah sebelumnya secara niscaya.
Pengembangan metode fenomenologis mengarah pada pemusatan perhatian kepada fenomena tanpa praduga. Ungkapan terkenal proses tersebut adalah zu den sachen selbst (terarah kepada benda itu sendiri). Dalam keterarahan ke benda itu, sesungguhnya realitas itu dibiarkan untuk mengungkapkan hakikat dirinya sendiri.
Hakikat fenomena yang sesungguhnya berada di balik yang menampakkan diri. Pengamatan pertama belum tentu sanggup membuat fenomena itu mengungkapkan hakikat dirinya. Karena itu, diperlukan pengamatan kedua yang disebut sebagai pengamatan intuitif. Pengamatan intuitif ini melalui tiga tahap reduksi, yaitu reduksi fenomenologis, eidetis dan transendental.
Didalam reduksi Fenomenologi kita harus menyaring pengalaman-pengalaman kita, dengan maksud agar mendapatkan fenomen dalam wujud semurni-murninya.
9.      Metode Neo-Positivistik
Metode ini dipergunakan oleh Edmund Husserl, Augote Comte dan kelompok eksistensialiame. Metode ini pada dasarnya melakukan pemotongan secara sistematis (reduction), refleksi atas fenomin dalam kesadaran mencapai penglihatan hakekat-hakekat murni.[7] Mereka  berpendapat bahwa pemikiran, jiwa ata budi manusia berkembang dalam tiga tahap/zaman, yaitu zaman teologis, zaman ontologis, dan zaman positivistis. Dan paham ini tidak hanya berpengaruh dibidang filsafat tetapi dalam ilmu-ilmu yang lain juga.
10.  Metode Analitika Bahasa
Filsafat analitik adalah aliran filsafat yang berasal dari kelompok filsuf yang menyebut diri mereka sebagai Lingkaran Wina. Filsafat analitik menolak metafisika karena mereka berpendapat bahwa metafisika tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Salah satu tokoh filsuf analitik adalah Ludwig Wittgenstein.
Metode yang digunakan para filsuf analitik berbeda satu dengan yang lain. Tapi yang jelas ada dua aliran besar dalam metode analitika yang berkembang sampai sekarang. Kedua metode itu adalah metode verifikasi dan klarifikasi.


[1] Sudarsono, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, (Jakarta: Rineka Cipta, 1993), 323
[2] Tim penyusun MKD IAIN Sunan Ampel Surabaya, Pengantar Filsafat, (Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press, 2011),  12
[3] http://filsafat-eka-wenats.blogspot.com. Diakses tanggal 13 Oktober 2012 pukul 7.00.
[4] http://filsafat-eka-wenats.blogspot.com. Diakses tanggal 13 Oktober 2012 pukul 7.00.
[5] Sudarsono, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, (Jakarta: Rineka Cipta, 1993), 314
[6] http://filsafat-eka-wenats.blogspot.com. Diakses tanggal 13 Oktober 2012 pukul 7.00.
[7] Tim penyusun MKD IAIN Sunan Ampel Surabaya, Pengantar Filsafat, (Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press, 2011),  12