BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya, masyarakat serta
suku yang berbeda. Hal ini bisa kita lihat dari perbedaan suku, masyarakat,
ras, agama yang membentang seluas arcipelago Indonesia dari Sabang sampai
Merauke. Merupakan sebuah kesalah besar apabila kita sebagai masyarakat
Indonesia, hanya acuh dan tidak mempelajari kebudayaan-kebudayaan yang beragam
yang tersapat di Indonesia.
Penulis memilih kebudayaan masyarakat Papua, karena Propinsi Papua
di Indonesia merupakan sebuah propinsi yang unik. Propinsi yang sering kali
dianggap sebelah mata oleh orang-orang karena anggapan mereka masyarakat papua
masih primitif. Namu di balik anggapan primitif itu, masyaratakat papua
merupakan salah satu masyarakat yang masih memegang teguh budayanya, budaya
asli Indonesia yang belum tercemar oleh pengaruh dari negara-negara barat.
B. Rumusan Masalah
1.
Bagaimanakan
letak Geografis Papua?
2.
Bagaimanakah
Seni dan Budaya Papua ?
3.
Bagaimanakah
Sosial dan Budaya Papua ?
C.
Tujuan
Pembuatan Makalah
1. Memahami Letak Geografis Papua,
2. Mengerti tentang Seni dan Budaya Papua.
3. Mengerti tentang Sosial dan Budaya Papua.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Letak Geografis Papua
Provinsi Papua dengan luas 31.7062 Km2,
terletak diantara 130° - 141°Bujur Timur dan 2°25' Lintang Utara - 9° Lintang
Selatan.
Batas
Wilayah :
Provinsi
Papua berbatasan dengan :
Sebelah
Utara : Samudera
Fasifik/Pacific Ocean
Sebelah
Selatan : Laut Arafura/Arafura
Sea
Sebelah
Barat : Provinsi Papua
Barat
Sebelah
Timur : Papua New
Guinea
Topografi
Pegunungan Utama di Provinsi Papua
terdiri atas Pegunungan Kobowre di Nabire, Pegunungan Sudirman di Enarotali dan
Puncak Jaya, Pegunungan Jayawijaya di Jayawijaya, Pegunungan Vanres di
Mamberamo, Pegunungan Gauntier dan Pegunungan Wisnumurti.
Gunung dan Puncak di Provinsi Papua yang
berada di deretan pegunungan tersebut adalah :
Gunung
Waspada (1.070 m)
Puncak
Jaya (5.030 m)
Puncak
Trikora (4.750 m)
Puncak
Yamin (4.350 m)
Puncak
Mandala (4.700 m)
Gunung
Dom (1332 m)
2
|
Di bagian utara terdapat lembah yang
dialiri sungai Tariku Dan Taritatu Sungai dan merupakan anak sungai Mamberamo
Sungai. Kebanyakan dataran rendah di semenanjung Bomberai berjejer kearah barat
sedangkan di Doberai yang bergunung-gunung ( Vogelkop; Belanda, "Kepala
Burung") berjejer kearah barat laut.
Sepanjang
bagian selatan pegunungan Maoke terdapat suatu area berpaya-paya yang luas
[yang] yang dialiri oleh air dari sungai Digul, Pulau, Braza, Baliem, Loren,
Armandville, Blumen, Semara, dan Mapi Sungai. Daerah Gunung yang tinggi
ditutupi oleh lembah-lembah yang ditumbuhi rumput kasar, dan tumbuh-tumbuhan
hutan-hujan tropis. Sedangkan area utara pegunungan tengah ditutupi oleh hutan
basah. Di antaranya banyak ditumbuhi varieta pohon palem (sagu, kelapa, dan
nipa), kayu cendana, kayu hitam, karet, casuarina, pohon cedar, buah sukun, dan
bakau; anggrek dan pakis tumbuh dengan subur di hutan basah tersebut. Kehidupan
rimba meliputi binatang berkantung, monotremes (binatang menyusui), ular,
buaya, katup/kupu-kupu, burung kasuari, cenderawasih, trenggiling, anjing liar,
babi liar, kura-kura darat, kadal kanguru pohon, burung bangau, merpati hijau,
dan berbagai jenis burung.[1]
B.
Seni
Dan Budaya Papua
1.
Alat
Musik Tradisional Papua
Ada Salah satu
nama alat musik tradisional yang paling terkenal yang berasal dari Papua yaitu
Tifa. Alat musik Tifa merupakan alat musik tradisional yang berasal dari daerah
maluku serta papua. Bentuknya alat musik Tifa mirip gendang dan cara
memainkannya Tifa adalah dengan cara dipukul. Alat musik Tifa terbuat dari
bahan sebatang kayu yang isinya sudah dikosongkan serta pada salah satu
ujungnya ditutup dengan menggunakan kulit hewan rusa yang terlebih dulu
dikeringkan. Hal ini dimaksudkan untuk menghasilkan suara yang bagus dan indah.
Alat musik ini sering di mainkan sebagai istrumen musik tradisional dan sering
juga dimainkan untuk mengiringi tarian tradisional, seperti Tarian perang,
Tarian tradisional asmat,dan Tarian gatsi.
2.
Tarian
Tradisional Daerah Papua
Terdapat
berbagai macam tari-tarian dan mereka biasa menyebutnya dengan Yosim Pancar
(YOSPAN). Di dalam tarian ini terdapat aneka bentuk gerak tarian seperti tari
Gale-gale, tari Pacul Tiga, tari Seka, Tari Sajojo, tari Balada serta tari
Cendrawasih. Tarian tradisional Papua ini sering di mainkan dalam berbagai
kesempatan seperti untuk penyambutan tamu terhormat, penyambutan para turis
asing yang datang ke Papua serta dimainkan adalah dalam upacara adat.
3.
Pakaian
Adat Tradisional Papua
Pakaian adat Papua
untuk pria dan wanita hampir sama bentuknya. Pakaian adat tersebuta memakai
hiasan-hiasan seperti hiasan kepala berupa burung cendrawasih, gelang, kalung,
dan ikat pinggang dari manik-manik, serta rumbai-rumbai pada pergelangan kaki.
4.
Rumah
Adat Papua
Nama rumah asli
Papua adalah Honai yaitu rumah khas asli Papua yang dihuni oleh Suku Dani.
Bahan untuk membuat rumah Honai dari kayu dengan dan atapnya berbentuk kerucut
yang terbuat dari jerami atau ilalang. Rumah tradisional Honai mempunyai pintu
yang kecil dan tidak berjendela. Umumnya rumah Honai terdiri dari 2 lantai yang
terdiri dari lantai pertama untuk tempat tidur sedangkan lantai kedua digunakan
sebagai tempat untuk bersantai, makan, serta untuk mengerjakan kerajinan
tangan.
C.
Sistem
Sosial Dan Budaya Papua
Perspektif sosial dan budaya merupakan proses perubahan yang
diakibatkan oleh kemajuan pola pikir, gagasan dan ide-ide manusia mengakibatkan
terjadinya perbedaan dengan keadaan sebelumnya dengan keadaan yang sedang
dihadapi seperti perubahan struktur, fungsi budaya baik dalam wujud penambahan
unsur baru atau pengurangan dan penghilangan unsur lama bisa dalam manifestasi
kemunduran (regress) dan bisa juga kemajuan (progress).
Kelompok asli di Papua terdiri atas 193 suku dengan 193 bahasa yang
masing-masing berbeda. Tribal arts yang indah dan telah terkenal di dunia
dibuat oleh suku Asmat, Ka moro, Dani dan Sentani.[2].
Sumber berbagai kearifan
lokal untuk kemanusiaan dan pengelolaan lingkungan yang lebih baik diantaranya
dapat ditemukan di suku Aitinyo, Arfak, Asmat, Agast, Aya maru, Mandacan, Biak,
Ami, Sentani dan lain-lain. Umumnya masyarakat Papua hidup dalam sistem
kekerabatan dengan menganut garis keturunan ayah (patrilinea). Budaya setempat
berasal dari Melanesia. Masyarakat penduduk asli Papua cenderung menggunakan
bahasa daerah yang sangat dipengaruhi oleh alam laut, hutan dan pegunungan.
Berbicara mengenai sistem sosial, terkandung sistem nilai sosial
budaya. Koentjaraningrat (1974:25)1 menganggap nilai sosial budaya sebagai
faktor mental yang menentukan perbuatan seseorang atau sekelompok orang di
masyarakat. Sistem nilai budaya terdiri dari konsep-konsepsi yang hidup dalam
alam pikiran sebagian besar warga masyarakat, mengenai hal-hal yang harus
mereka anggap amat bernilai dalam hidup. Karena itu suatu nilai budaya biasanya
berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia. Sistem-sistem tata
kelakuan manusia lain yang tingkatnya lebih konkrit, seperti aturan-aturan
khusus, hukum dan norma-norma, semuanya juga berpedoman kepada sistem nilai
budaya.
Semua sistem nilai budaya dalam semua kebudayaan, akan berkisar
dalam lingkup masalah kehidupan (hakekat hidup), kerja, waktu, alam atau
lingkungan hidup dan hubungan dengan sesama manusia. Sedangkan mengikuti
klasifikasi Alisyahbana (1981:22)2, berusaha memilah-milah berbagai macam nilai
budaya menjadi enam kelompok.
Keenam jenis nilai tersebut, timbul dari aktivitas budi manusia,
yaitu:
(1) nilai teori atau ilmu yang merupakan identitas tiap benda atau
peristiwa, terutama berkait erat dengan aspek penalaran (reasoning) ilmu dan
teknologi;
(2) nilai ekonomi, yang mencari dan member makna bagaimana kegunaan
segala sesuatu, berpusat pada penggunaan sumber dan benda ekonomi secara
efektif dan efisien berdasarkan kalkulasi dan pertanggung jawaban;
(3) nilai agama, yang melihat segala sesuatu sebagai penjelmaan
kekudusan, dikonsentrasikan pada nilai-nilai dasar bagi kemajuan kehidupan di
dunia dan akhirat;
(4) nilai seni, yang menjelmakan keindahan atau keekspresifan;
(5) nilai kekuasaan, yang merupakan proses vertikal dari organisasi
sosial yang terutama terjelma dalam hubungan politik, ditandai oleh pengambilan
keputusan; dan
(6) nilai solidaritas sosial, yang merupakan poros horizontal dari
organisasi, terjelma dalam cinta dan kasih sayang, namun lebih berorientasi
kepada kepoercayaan diri sendiri.
Mengacu pada perbedaan tofografi dan adat istiadat, penduduk Papua
dapat dibedakan menjadi tiga kelompok besar, masing-masing :
1) penduduka daerah pantai dan kepulauan dengan ciri-ciri umum
rumah di atas tiang (rumah panggung) dengan mata pencaharian menokok sagu dan
menangkat ikan;
2) Penduduk daerah pedalaman yang hidup di daerah sungai, rawa
danau dan lebah serta kaki gunung. Umumya mereka bermata pencaharian menangkap
ikan, berburu dan mengumpulkan hasil hutan;
3) Penduduk daerah dataran tinggi dengan mata pencaharian berkebun
dan beternak secara sederhana.[3]
[3] Alisyahban,
Pembangunan Kebudayaan Indonesian Di Tengah Laju Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi, ( Jakarta: Prisma,1981), 74


